Kisah manusia menikah dengan hantu kuntilanak untuk tujuan mendapat harta pesugihan, memang tidak mengada-ada. Hal itu diakui Alimin (45), salah seorang warga Surabaya, Jawa Timur.
Alimin adalah salah seorang yang telah berhasil menjadi kaya, usai menikahi hantu kuntilanak. Padahal, dulunya Alimin adalah seorang pria yang miskin dan hidup melarat. Bahkan karena kemiskinannya, Alimin sampai ditinggalkan oleh sang istri.
“Dulu, semua orang menjauhi, karena saya miskin. Tapi, setelah saya jadi kaya, setiap orang justru menganggap saya sebagai temannya atau saudaranya,” cerita Alimin, yang kini menjalankan usaha mebel dan memiliki beberapa toko di berbagai kota.
Alimin bukanlah seorang paranormal yang bisa berkomunikasi dengan makhluk halus. Pertemuannya dengan hantu kuntilanak yang kemudian dinikahinya, terjadi secara tidak sengaja, ketika dia bekerja di hutan yang berada di pedalaman Kalimantan.
Alimin dilahirkan di sebuah desa kecil di daerah Pacitan, Jawa Timur. Dia adalah sulung dari tiga bersaudara. Alimin memiliki satu orang adik laki-laki dan satu orang adik perempuan.
Sejak berumur 14 tahun, Alimin telah kehilangan ayahnya. Tumiran, sang ayah, meninggal karena penyakit TBC. Setahun berikutnya, sang ibu, Paijah, ikut menyusul ke alam baka. Sang ibu meninggal karena tertabrak mobil saat menyeberang jalan.
Di usia yang masih belia itu, Alimin terpaksa menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya. Sehari-hari, Alimin yang hanya lulusan SD, bekerja sebagai buruh tani sambil jualan keliling peralatan rumah tangga berbahan bambu buatannya sendiri.
“Walaupun pas-pasan, tapi hasil jerih payah saya itu masih bisa memenuhi kebutuhan hidup saya dan kedua adik saya,” kenangnya. Bahkan Alimin berhasil menyekolahkan kedua adiknya hingga lulus SMA.
Dari waktu ke waktu, usaha peralatan rumah tangga Alimin semakin berkembang. Dia tak lagi berkeliling, tapi sudah banyak pedagang yang mendatanginya untuk membeli barang-barangnya, buat dijual lagi.
Karena ekonominya yang sudah mulai mapan, Alimin memberanikan diri untuk melamar gadis pujaan hatinya, seorang tetangga desa sebelah. Gadis itu bernama Suliana.
Pernikahan akhirnya berlangsung. Sejak itu, Alimin memboyong istrinya untuk tinggal bersama di rumahnya.
“Adik-adik saya waktu itu sudah bekerja semua. Satu tinggal di Jakarta, dan satu lagi tinggal di Medan, Sumatera Utara. Jadi, di rumah hanya saya dan istri. Kami menempati rumah peninggalan orangtua,” kata Alimin.
Rumah Alimin masih berupa bangunan semi permanen. Separuh bagian bawah terbuat dari bata, dan separuh bagian atasnya dari anyaman bambu.
Sayangnya, kebahagiaan yang diidamkan Alimin, tidak terjadi. Hanya beberapa bulan saja, Alimin sempat merasakan madu perkawinan. Selebihnya, dia justru merasa seperti hidup dalam neraka.
Suliana ternyata seorang perempuan yang matrealistis. Bahkan saat usaha Alimin sedang pailit, sang istri tak mau mengerti. Dia terus menuntut untuk dibelikan barang-barang yang diinginkan.
Musibah akhirnya datang, saat Alimin mengalami masalah keuangan yang pelik. Banyak pedagang yang membawa barang-barang rumah tangga bikinannya, justru kabur dan tidak mau membayar.
Pada akhirnya, Alimin benar-benar jatuh bangkrut. Usahanya gulung tikar, karena ketiadaan modal. Belum lagi Alimin harus membayar hutang kreditan barang yang dibelikan untuk istrinya. Seperti kulkas, mesin cuci dan lain sebagainya.
Saat itu, Alimin pun nekat untuk bekerja di luar kota. Kebetulan ada seorang temannya yang menawari pekerjaan di pekerbunan kelapa sawit yang ada di Kalimatan.
Atas ijin sang istri, Alimin berangkat ke Kalimantan dengan niatan untuk bekerja, agar mendapatkan uang untuk menutupi hutang dan juga menafkahi istrinya.
Di Kalimantan, ternyata lahan kelapa sawit belum terbentuk. Untuk itu, Alimin dan para pekerja yang lain, harus membabat hutan terlebih dahulu. Tugas berat itu terpaksa dijalani Alimin dengan tabah, demi keinginan untuk keluar dari masalah ekonomi yang sedang dihadapi.
“Bayangkan bagimana beratnya menebang pohon-pohon. Yang ditebang ini ada ribuan pohon, karena rencana lahan yang akan digunakan sangat luas. Belum lagi resiko kecelakaan kerja,” ungkapnya.
Setiap bulannya, lewat orang perusahaan yang dipercaya, Alimin mengirimkan uang gajinya untuk sang istri di kampung, lewat wesel.
“Tapi, baru dua bulan, saya dengar kabar kalau istri saya selingkuh. Dia sudah meninggalkan rumah dengan pria selingkuhannya,” kata Alimin.
Sebagai lelaki, tentu saja Alimin geram. Di bulan ketiga bekerja, Alimin meminta ijin untuk pulang ke kampung halamannya. Tujuannya mencari Suliana, dan meminta penjelasan tentang kabar perselingkuhan itu.
“Saya sempat mencari selama berhari-hari. Dan akhirnya saya berhasil bertemu dengan Suliana, sewaktu dia pulang ke rumah orangtuanya,” tutur Alimin.
Saat itu, Alimin mengajak Suliana untuk berbicara dari hati ke hati, mengenai kabar perselingkuhan itu. Dan ternyata, Suliana membenarkan. Namun, bukannya meminta maaf, Suliana justru meminta untuk bercerai dengan sang suami.
“Dia bilang, kalau saya tidak bisa membuatnya bahagia. Karena itu, Suliana minta untuk bercerai. Hati saya rasanya sakit sekali. Saya merasa kalau muka saya telah disayat-sayat dengan silet,” ujarnya.
Dengan perasaan berat, Alimin pun mengabulkan keinginan Suliana. Namun, karena dia harus kembali ke Kalimantan, Alimin meminta agar Suliana mengurusi sendiri perceraiannya.
Sekembalinya ke Kalimantan dari kampung halaman, Alimin didera perasaan perih. Dia tak menyangka, istri yang begitu dicintai, ternyata telah berkhianat. Bahkan secara tidak langsung, Suliana telah melecehkan Alimin karena kemiskinannya.
Demi melupakan sakit hatinya, Alimin bekerja siang dan malam tanpa kenal lelah. Dia berusaha agar tidak ada waktu untuk memikirkan masalah rumah tangganya yang telah hancur itu.
Tak terasa, enam bulan pun terlewati. Alimin benar-benar sudah melupakan Suliana, yang telah resmi menjadi mantan istrinya.
Suatu hari, ketika sedang beristirahat di bawah sebuah pohon besar, mendadak Alimin dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan cantik.
Perempuan tersebut membawakan bungkusan makanan untuk Alimin yang kala itu sedang sendirian.
Awalnya, Alimin mengira perempuan itu adalah pegawai baru di perkebunan, yang khusus bertugas mengantar makanan untuk para pekerja.
“Karena waktu itu sudah jam 7 malam, jadi banyak teman-teman yang sudah kembali ke tenda. Mungkin hanya tinggal saya seorang yang ada di luar tenda,” cerita Alimin.
Rasa lapar yang sudah tak tertahan, membuat Alimin melahap semua isi nasi bungkus yang dibawa oleh perempuan itu. Setelah makanan habis, dengan langkah gontai karena capek, Alimin segera masuk ke dalam tenda untuk tidur.
“Paginya saya tanya ke beberapa teman, tentang perempuan cantik yang mengantar makanan. Tapi, anehnya tidak ada yang tahu. Mereka malah heran dengan pertanyaan saya. Kata teman-teman, pengantar makanan itu bukan perempuan, tapi laki-laki. Padahal yang saya temui itu perempuan,” ucapnya.
Kejadian serupa terulang pada malam berikutnya. Dan kali ini, Alimin pun memberanikan bertanya, tentang siapa perempuan cantik itu.
“Waktu itu dia mengaku gadis asal salah satu desa di sekitar hutan itu. Bahkan saya akhirnya diajak ke rumahnya,” kata Almin.
Semula, Alimin tak sadar jika gadis itu bangsa lelembut. Alimin baru tahu, setelah gadis itu menceritakan sendiri jati dirinya.
“Di hadapan saya, dia merubah wujudnya menjadi hantu kuntilanak. Rambutnya panjang tergerak dengan pakaian berwarna putih,” terangnya.
Alimin sempat kaget saat mengetahui bahwa gadis itu adalah jelmaan kuntilanak. Namun, setelah gadis itu menceritakan tentang maksud kedatangannya yang ingin membantu Alimin keluar dari kesulitan ekonomi, pria ini pun berubah gembira.
“Dia terus terang meminta untuk saya jadikan istri. Katanya, dia bisa memberi saya kekayaan, kalau saya mau menuruti keinginannya,” tukas Alimin.
Akhirnya, demi menjadi orang kaya yang sudah lama diidam-idamkan, Alimin pun menuruti syarat yang diminta hantu kuntilanak itu.
“Besoknya saya pamit kepada mandor, untuk berhenti kerja. Saya langsung kembali ke kampung halaman bersama hantu kuntilanak itu,” ucap Alimin.
Di rumah, Alimin memperlakukan hantu tersebut layaknya seorang istri. Setiap kali hantu itu menginginkan hubungan intim, maka Alimin harus bersedia menuruti kemauannya.
“Kadang, dua atau tiga hari sekali saya harus melayani birahinya. Setiap kali berhubungan intim, dia selalu merubah wujudnya menjadi gadis cantik,” ungkapnya.
Usai berhubungan intim, paginya Alimin akan mendapati ranjang tidurnya penuh dengan daun-daun kering. Selanjutnya, daun-daun kering tersebut disimpan di bawah ranjang selama sehari semalam, agar berubah menjadi uang kertas.
“Saya sendiri tidak pernah tahu bagaimana daun-daun itu bisa ada di ranjang. Sebab, setiap habis hubungan intim, saya selalu tertidur dan baru bangun pagi harinya,” jelas Alimin.
Setidaknya, dalam sekali hubungan intim, daun-daun kering itu bisa berubah menjadi uang Rp 100 juta atau bahkan lebih. Tak heran jika dalam waktu singkat, Alimin telah menjadi seorang yang kaya raya.
Uang yang didapatnya kemudian digunakan untuk membuka usaha mebel, yang semakin lama semakin berkembang.
“Tidak ada tumbal yang saya berikan. Tapi, seumur hidup selama terikat perjanjian dengan kuntilanak itu, saya tak boleh berhubungan seks dengan wanita lain,” ucap Alimin.
Setelah dua tahun, Alimin memutuskan hijrah ke Surabaya, untuk mengembangkan usahanya. Disamping itu, kepindahannya juga dilakukan, karena banyak tetangga yang mulai curiga.
“Para tetangga mulai meributkan, kalau mereka sering mendengar suara tawa cekikan perempuan di rumah saya. Bahkan warga mulai curiga saya punya pesugihan, karena saya bisa jadi kaya mendadak,” ulasnya.
Saat ini, sudah lebih dari tujuh tahun Alimin menjalani pesugihan menikah dengan kuntilanak. Dari waktu ke waktu, kekayaannya juga semakin meningkat, baik dari harta pesugihan maupun dari usaha mebel yang dijalankannya



